Xi'an, I lost Him
Sebenarnya, aku ingin bicara tentang degup yg tak sempat kau dengar. Tentang tulisan-tulisan yg dengan haru ku rangkai tapi pada akhirnya ku hapus kembali. Tentang mata yg berkaca-kaca melihat notifikasimu di screen. Dan aku sekuat itu menahan diri,hanya karna masih berpikir tak akan kau hargai. Sebenarnya, tak ada mimpi yg benar-benar fana. Kau mimpi,dan kenyataan yg hadir sekaligus dua kali. Merebut mataku dan kebahagiaan yg ada didalamnya. Aku tak pernah bisa menahan tangis,untuk kenangan kita yg begitu manis. Rasanya ingin ku pukul kepala,agar ingatan tak semakin lekat. Agar kamu,bersedia keluar dan membiarkanku tidur nyenyak beristirahat. Nyatanya segala kerinduan tetap berdetak,meski kamu memilih retak. Suaramu merdu terdengar,meski seringkali bicaraku kau abaikan. Aku kecap pahitku. Aku abaikan perasaanku. Aku memaksa senja menutup rapat pintu kenangan. Aku mengubur bintang-bintang yg pernah kau sebut sebagai teman. Aku sisa sisa kenangan yg dipaksa membuang dirinya sendiri. Rin...